motivasi

Bagaikan pohon yang bercabang dan semakin berakar kuat, sejarah juga memiliki akar yang kokoh dan bercabang untuk memberikan ilmu di masa depan

Sabtu, 18 Mei 2013

Unsur-unsur Budaya Islam dan Unsur Budaya Asli Indonesia Yang Telah Dipengaruhi Budaya Islam


2.1 Budaya Asli Indonesia Sebelum Islam Datang
Sebelum Islam masuk ke bumi Nusantara, sudah terdapat banyak suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi, sosial dan budaya di Nusantara yang berkembang. Semua itu tidak terlepas dari pengaruh sebelumnya, yaitu kebudayaan nenek moyang (animisme dan dinamisme), dan Hindu Budha yang berkembang lebih dulu daripada Islam.
Seperti halnya kondisi masyarakat daerah pesisir pada waktu itu, bisa dikatakan lebih maju daripada daerah lainnya. Terutama pesisir daerah pelabuhan. Alasannya karena daerah pesisir ini digunakan sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan. Penduduk pesisir terkena percampuran budaya (akulturasi) dengan pedagang asing yang singgah. Secara tidak langsung, dalam perdagangan yang dilakukan antara keduanya, mereka menjadi mengerti kebudayaan pedagang asing. Pedagang asing ini seperti pedagang dari Arab, Persia, China, India dan Eropa.
Berbeda dengan daerah pedalaman yang lebih tertutup (konservatif) dari budaya luar. Sehingga mereka lebih condong pada kebudayaan nenek moyang mereka dan sulit menerima kebudayaan dari luar. Awalnya Islam masuk dari pesisir kemudian menuju daerah pedalaman. Masuknya Islam masih sudah terdapat kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Budha yang masih eksis, diantaranya adalah kerajaan Majapahit dan kerajaan Sriwijaya. Selain itu terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tersentuh oleh pengaruh Hindu dari India. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi misalnya Gowa, Wajo, Bone dan lainnya. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi tidak menunjukkan adanya pengaruh Hindu. Contohnya dalam penguburan pada masyarakat Gowa masih berdasarkan tradisi nenek moyang, yaitu dilengkapi dengan bekal kubur.
Hindu Budha lebih dulu masuk di Nusantara daripada Islam. Islam masuk ke Nusantara bisa dengan mudah dan lebih mudah diterima masyarakat pada waktu itu dengan berbagai alasan. Pertama, situasi politik dan ekonomi kerajaan Hindu, Sriwijaya dan Majapahit yang mengalami kemunduran. Hal ini juga disebabkan karena perluasan China di Asia Tenggara, termasuk Nusantara.

2.2 Masuknya Islam ke Indonesia
Durasi penyebaran awal Islam Indonesia dalam kisaran abad ke-7 hingga 13 Masehi. Penyebarnya berasal dari Arab, Persia, dan India (Gujarat, Benggala). Profesi para penyebar umumnya pedagang, mubalig, wali, ahli-ahli tasawuf, guru-guru agama, dan haji-haji. Mereka menyebarkan Islam lewat sejumlah saluran. Saluran-saluran ini berlangsung dalam enam aras, yaitu perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, seni dan tawaran pembentukan masyarakat egalitarian dalam strata sosial.

Perdagangan
Perdagangan merupakan metode penetrasi Islam paling kentara. Dalam proses ini, pedagang nusantara dan Islam asing bertemu dan saling bertukar pengaruh. Pedagang asing umumnya berasal dari Gujarat dan Timur Tengah (Arab dan Persia). Mereka melakukan kontak dengan para adipati wilayah pesisir yang hendak melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Sebagian dari para pedagang asing ini menetap di wilayah yang berdekatan dengan pantai dan mendifusikan Islam mereka.
Tatkala para pedagang asing menetap (baik sementara waktu ataupun seterusnya)  mereka membangun pemukiman yang disebut Pekojan. Banyak di antara para saudagar Islam yang kaya sehingga menarik hati kaum pribumi, terutama anak-anak kaum bangsawan, untuk menikahi mereka. Masalahnya, para pedagang menganggap pernikahan dengan penganut berhala tidak sah. Mereka mensyaratkan bahwa untuk menikah, penduduk Indonesia harus masuk Islam dengan mengucapkan syahadat terlebih dahulu. Proses pernikahan singkat, tidak melalui upacara yang panjang-lebar, membuat kalangan pribumi semakin menerima keberadaan orang-orang asing berikut agama barunya ini. Mukimnya pedagang Islam dalam kegiatan perdagangan (sekadar transit atau menetap), membuat mereka berkembang biak di sekitar wilayah pelabuhan. Pola ini mampu mengembangkan pemukiman Islam baru (disebut koloni). Ini menjelaskan mengapa Kerajaan Islam nusantara selalu berawal dari wilayah-wilayah pesisir seperti Bone, Banjar, Banten, Demak, Cirebon, Samudera Pasai, Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, Hitu, ataupun Deli.

Perkawinan
Seperti telah dipaparkan sebelumnya, perkawinan banyak dilakukan antara pedagang Islam dengan putri-putri adipati. Dalam pernikahan, mempelai pria Islam (juga wanitanya) mengajukan syarat pengucapan kalimat syahadat sebagai sahnya pernikahan. Anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut cenderung mengikuti agama orang tuanya yang Islam. Perkawinan antara saudagar Islam dengan anak-anak kaum bangsawan, raja, atau adipati menguntungkan perkembangan Islam. Status sosial, ekonomi, dan politik mertua-mertua mereka memungkinkan Islam melakukan penetrasi langsung ke jantung kekuasaan politik lokal (palace circle). Saat sudah berada di aras pusat kekuasaan politik, penerbitan kebijakan-kebijakan yang menguatkan penyebaran Islam mendapat prioritas dalam input, konversi, dan output kebijakan para sultan atau para adipatinya.

Tasawuf
Tasawuf merupakan epistemologi Islam yang banyak menarik perhatian kalangan pribumi. Metodenya yang toleran, tidak mengakibatkan cultural shock signifikan, membuat banjir penganut Islam baru. Tasawuf cenderung tidak menciptakan posisi diametral Islam dengan budaya India ataupun tradisi lokal yang dipraktekkan kalangan pribumi. Tokoh-tokoh tasawuf Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, ataupun beberapa tokoh Wali Sanga (termasuk juga Syekh Siti Jenar) mengambil posisi kunci dalam metode penyebaran ini. Lewat tasawuf pula, bentuk Islam yang diperkenalkan menunjukkan persamaan dengan alam pikiran orang-orang Jawa-Hindu, çina, dan Buddha. Akibatnya, Islam tidak dipandang sesuatu yang sama sekali asing bagi kalangan pribumi.

Pendidikan
Sebelum Islam masuk, Indonesia dikenal sebagai basis pendidikan agama Buddha, khususnya perguruan Nalendra di Sumatera Selatan. Pecantrikan dan Mandala adalah sekolah tempat para penuntut ilmu di kalangan penduduk pra Islam. Setelah Islam masuk, peran Pecantrikan dan Mandala tersebut diambil alih lalu diberi muatan Islam dalam kurikulumnya. Kini pesantren (Islam) berlaku sebagai pusat pembinaan guru agama, kiai, dan ulama. Selesai pendidikan, lulusan kembali ke kampung dan desa masing-masing untuk menjadi tokoh agama atau mendirikan pesantren sendiri. Misalnya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang mendirikan pesantren di Ampel Denta. Selain itu, pesantren yang didirikan Sunan Giri menjadi terkenal hingga Maluku dan menyebabkan penduduk Maluku (khususnya wilayah Hitu) datang berguru pada Sunan Giri. Atau, para kiai dari Giri diundang mengajar ke Hitu. Biasanya, yang diundang menjadi khatib, modin, atau kadi masyarakat Hitu dan diberi upah cengkih.

Seni
Tidak bisa dipungkiri, seni punya peran signifikan dalam penyebaran Islam. Orang Indonesia sebelum kedatangan Islam terkenal sebagai seniman-seniman jenius yang punya kemashuran tinggi. Lewat seni, Islam mampu menjangkau segmen lebih luas masyarakat pribumi, termasuk para elitnya. Sunan Kalijaga misalnya, menggunakan wayang sebagai cara dakwah baik atas penduduk biasa maupun elit sosial. Sunan Bonang menggunakan gamelan dalam melantunkan syair-syair keagamaan. Ini belum termasuk tokoh-tokoh lain yang mengadaptasi seni kerajinan lokal dan India yang diberi muatan Islam.

Egalitarianisme
Egalitarianisme akhirnya menempati posisi kunci. Problem utama di budaya sebelumnya adalah stratifikasi sosial berdasarkan kasta. Meski tidak terlampau ketat, Hindu di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi terbentuknya kasta sosial seperti Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan Paria. Masyarakat biasa kurang leluasa dengan sistem ini, oleh sebab mengakibatkan sejumlah keterbatasan dalam hal pergaulan dan perkawinan. Lalu, Islam datang dan tidak mengenal stratifikasi sosial. Mudah dipahami, orang-orang Indonesia (terutama dari kasta bawah) yang hendak bebas merespon baik agama baru ini.




2.3 Akulturasi Budaya Indonesia dengan Budaya Islam
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.
Untuk lebih memahami wujud budaya yang sudah mengalami proses akulturasi dapat Anda simak dalam uraian materi berikut ini.
1)    Akulturasi Bentuk Fisik
a)    Seni Bangunan
·         Mesjid
Bentuk Bangunan. Kebanyakan mesjid di Indonesia terutama di Jawa berbentuk seperti pendopo yang berbentuk bujur sangkar. Selain itu atap mesjid berbentuk tumpang. Ini merupakan perpaduan dengan Hindu dimana tumpang dalam agama Hindu menghiasi pura. Atap ini sangat berbeda dengan atap-atap masjid di Timur Tengah sebagai asal Islam. Akan tetapi dalam Islam tidak ada aturan khusus dalam masalah atap masjid, yang terpenting dapat dijadikan sebagai tempat sholat. Atap ini juga selalu ganjil, yaitu 3 atau 5.
Menara. Menara berfungsi sebagai tempat untuk menyerukan azan. Menara merupakan salah satu kelengkapan masjid. Akan tetapi di Indonesia hanya masjid Kudus dan banten saja yang memiliki menara. Menara msjid Kudus terbuat dari terakota yang tersusun seperti candi sedangkan di Banten bentuk menara yang lebih menyerupai mercusuar Eropa.
Letak Mesjid. Selain bentuk masjid dan menara, letak masjid juga memiliki keunikan. Penempatan masjid di Indonesia terutama masjid jami’ letaknya sesuai dengan tata letak macapat, yaitu masjid diletakkan disebelah barat alun-alun dekat dengan istana (keraton) yang merupakan simbol tempat bersatunya rakyat dengan rajanya. Sebenarnya penempatan majid dalam Islam tidak diatur secara khusus. Selain itu penempatan masjid diletakkan dekat dengan makam. Letak yang seperti ini terutama untuk makam raja-raja. Contoh masjid kuno lain Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya.

·         Makam
Yang berciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:
1.    Makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
2.    Makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing, nisannya juga terbuat dari batu.
3.    Di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
4.    Dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
5.    Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja.
·         Istana
Bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam hias, maupun dari seni patungnya contohnya istana Kasultanan Yogyakarta dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).

2)    Akulturasi Bentuk Kesenian
a)    Seni Ukir
Dalam agama Islam ada larangan untuk melukiskan makhluk hidup terutama manusia. Seni pahat di Indonesia sangat berkembang pesat pada zaman purba, akan tetapi masuk zaman madya (Islam), seni ini tidak berkembang lagi. Maka dari itu, pada zaman ini kepandaian memahat hanya terbatas pada seni ukir saja. Seni ukir pun sudah disamarkan sehingga tidak lagi menyerupai makhluk hidup. Banyak pola-pola yang diambil dari zaman purba, yaitu pola daun-daunan, bunga-bungaan, bukit karang, pemandangan dan garis-garis geometri. Huruf-huruf Arab juga ikut meramaikan tradisi ukir yang masuk ke dalam pola. Pola-pola ini sering sekali digunakan untuk menyamarkan lukisan makhluk hidup. Ukiran-ukiran biasannya menghiasi makam-makam, sedangkan pada masjid hanya tedapat di mimbarnya saja. Ukir-ukiran di makam dapat ditemui pada jirat, gapura dan cungkup. Di Indonesia ada masjid yang memiliki ukiran samar dari zaman madya, yaitu masjid mantingan di Jepara.

b)    Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian.
c)    Debus
Kesenian Debus erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di Indonesia. Debus merupakan kesenian bela diri guna memupuk rasa percaya diri. Debus berasal dari kata gedebus (almadad). Filosofi dari debus ini adalah kepasrahan kepada pencipta yang menyebabkan mereka memiliki kekuatan untuk menghadapi bahaya. Tari debus ini dimulai dengan menyanyikan sholawat yang kemudian diteruskan dengan menusukkan benda tajam ketubuh penari, dan penari tersebut tidak terluka sedikitpun. Tari Debus ini berkembang di Banten, Minangkabau dan Aceh.
d)    Tari Seudati
Tari Seudati merupakan jenis tarian yang berasal dari aceh. Tarian ini sering disebut tari Saman. Seudati berasal dari kata Syaidati yang berarti permainan orang-orang besar. Disebut sebagai tari saman karena mula-mula permainan ini dimainkan oleh delapan orang. Dalam tari Seudati para pnari menyanyikan lagu tertentu yang berupa sholawat.
e)    Gamelan/ Wayang
Wayang dan alat musiknya sering disebut sebagai gamelan. Wayang merupakan kebudayaan asli Indonesia. Dengan masuknya Islam wayang beserta alat musiknya tidaklah musnah begitu saja, justru tetap dilestarikan. Banyak cerita-cerita yang digubah dan dimainkan menggunakan gamelan, begitu juga dalam Islam, untuk memudahkan penyebarannya cerita-cerita Hindu Budha dirubah dalam cerita Islam. Kalimasada merupakan sesuatu yang telah mewarnai dunia pewayangan. Wali Sanga sebagai penyebar agama di Jawa juga menggunakan media wayang dalam penyebaran Islam.

3)    Akulturasi Bentuk Kesusasteraan
Kesusasteraan zaman madya berkembang di daerah selat Malaka, akan tetapi perkembangnya tidak sebesar kesusasteraan zaman purba (Hindu-Budha). Hal ini dikarenakan tidak ada tempat khusus untuk melestarikannya seperti kesusasteraan purba yang masih tersimpan rapi di Bali. Kesusasteraan zaman madya yang ada saat ini sebagaian besar merupakan hasil gubahan baru. Hal ini menyebabkan kesusasteraan zaman madya sulit diturutkan kepada perjalanan sejarah sehingga hanya dapat dibagi-bagi menurut golongannya saja. Walaupun demikian pembagian tersebut tidak dapat dilakukan secara tegas krena suatu naskah dapat masuk dalam 2 golongan.
Kesusasteraan zaman madya tidak terlepas dari pengaruh Hindu-Budha. Bahan-bahan dari kesusasteraan zaman purba merupakan kelanjutan sastra purba terutama di Jawa. Banyak gubahan-gubahan sastra purba berkembang di zaman madya. Gubahan-gubahan sastra ini biasanya ditulis dalam bentuk gancaran dan tembang. Cerita-cerita yang ditulis dalam bentuk gancaran disebut hikayat, sedangkan yang ditulis dalam tembang disebut syair. Di daerah Melayu karya sastra banyak yang ditulis dengan menggunakan huruf Arab, sedangkan di Jawa ditulis dalam huruf Jawa walaupun ada juga yang menggunakan huruf Arab terutama yang berkaitan dengan soal-soal keagamaan.
Kesusasteraan zaman madya berdasarkan sifatnya dapat dibagi menjadi :
a)    Hikayat
Hikayat merupakan cerita atau dongeng yang biasanya penuh dengan keajaiban dan keanehan. Tidak jarang pula hikayat berpangkal pada tokoh-tokoh sejarah dan peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi.
Contoh : hikayat Raja-Raja pasai, Hikayat Salasih, Hikayat Perak, Hikayat si Miskin, Hikayat Hang Tuah.
b)    Babad
Babad merupakan dongeng yang sengaja diubah sebagai cerita sejarah. Dalam babad tokoh, tempat dan peristiwa hampir semuanya ada dalam sejarah, tetapi penggambarannya dilakukan secara berlebihan.
Contoh : babad Tanah Jawi, babad Cirebon, Babad Giyanti, Babad Pakepung.
c)    Suluk
Suluk merupakan kitab-kitab yang menguraikan soal tasawuf. Kitab suluk sangat menarik karena sifatnya pantheisme, yang menjelaskan tentang bersatu.nya manusia dengan Tuhan (Manunggaling Kawulo lan Gusti). Beberapa pujangga yang menulis suluk diantaranya adalah Ronggoearsito, Hamzah Fansuri, Sunan Bonang dan Syaekh Yusuf.
d)    Kitab primbon
Kitab primbon memiliki kedekatan dengan suluk. Primbon menerangkan tentang kegaiban. Berisi ramalan-ramalan, penentuan hari baik dan buruk, dan pemberian makna pada suatu kejadian.
Contoh : Kitab primbon Bataljemur Adammakna, kitab primbon Lukman Hakim.

4)    Akulturasi Bentuk Aksara dan Bahasa
a)    Aksara
Dengan masuknya Islam, dalam bidang aksara juga ikut terpengaruhi. Huruf yang berkembang adalah huruf Hijriah (aksara Arab). Di Indonesia huruf Arab tersebut diolah menjadi lebih sederhana menjadi huruf Arab yang dipakai di daerah-daerah dengan percampuran menggunakan bahasa daerah setempat. Bunyi dari tulisan menggunakan bahasa setempat (Aceh, Melayu, Sunda dan Jawa), tetapi akasaranya mengunakan aksara Arab. Secara keseluruhan tulisan yang demikian disebut dengan Arab Gundul atau Arab Gondil. Sedangkan di Jawa dan Sunda disebut Arab Pegon. Sampai saat ini huruf Arab Pegon masih digunakan oleh sebagain masyarakat di Indonesia. Masyarakat penggunanya terutama berasal dari daerah pesisir dan kalangan pesantren-pesantren tradisional. Penggunaan huruf atau bahasa Pegon itu misalnya saja dalam kitab-kitab keagamaan dan mantra-mantra.

b)    Bahasa
Konversi Islam nusantara awalnya terjadi di sekitar semenanjung Malaya. Menyusul konversi tersebut, penduduknya meneruskan penggunaan bahasa Melayu. Melayu lalu digunakan sebagai bahasa dagang yang banyak digunakan di bagian barat kepulauan Indonesia. Seiring perkembangan awal Islam, bahasa Melayu pun memasukkan sejumlah kosakata Arab ke dalam struktur bahasanya. Bahkan, Taylor mencatat sekitar 15% dari kosakata bahasa Melayu merupakan adaptasi bahasa Arab. Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf Pallawa ke dalam huruf Arab, dan ini kemudian dikenal sebagai huruf Jawi.

5)    Akulturasi Sistem Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon. Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).
Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan seperti Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa Arab. Dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan. Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.

6)    Akulturasi Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan juga terdapat akulturasi antara kebudayaaan Islam dan kebudayaan pra Islam. Bentuk akulturasi tersebut terlihat dalam penyebutan nama raja dan sistem pengangkatan raja.
a)    Penyebutan nama raja
Masuknya Islam menimbulkan perubahan dalam penyebutan raja. Penguasa suatu negeri pada masa pra Islam disebut sebagai raja, akan tetapi dengan masuknya Islam dipanggil sultan, sunan, susuhunan, panembahan dan maulana. Nama raja juga disesuaikan dengan nama Islam (Arab). Akan tetapi di Jawa masih digunakan nama Jawa. Selain itu muncul suatu tradisi baru, yaitu pemakaian nama dan gelar raja secara berturut-turut. Untuk membedakan antara raja maka dibelakang nama ditambah dengan angka urutan, misalnya Hamengku Buwono I,II,III dst.
b)    Sistem pengangkatan raja
Walaupun Islam telah masuk, akan tetapi dalam pengangkatan seorang raja cara lama tidak ditinggalkan. Sebagai contohnya adalah di Kesultanan Aceh. Di Kesultanan Aceh pengangkatan raja diatur dalam permufakatan dengan hukum adat. Tata caranya adalah berdiri di atas tabal, kemudian disertai ulama sambil membawa al-Quran berdiri di sebelah kanan, sedangkan perdana menteri dengan membawa pedang berdiri di sebelah kiri. Hal ini hampir sama dengan di Jawa, sistem pengangkatan raja berdasarkan permufakatan yang tidak melepaskan peranan wali, hanya saja tidak menggunakan rangkaian acara seperti berdiri di atas tabal.
c)    Kedudukan Raja
Pada masa Hindu Budha raja merupakan tokoh yang identik dengan dewa, sehingga melekatlah kata-kata “kultus dewa raja”. Pada zaman Islam kutus dewa raja tidak berlaku lagi. Hal ini dikarenakan ajaran Islam menolak bahwa manusia sama dengan Tuhan. Ajaran Islam menempatakan raja dalam kedudukan yang tidak semulia dan seagung zaman Hindu Budha, melainkan sebagai kalipatullah (wali Tuhan di dunia). Penghapusan kultus dewa raja tidaklah mengurangi tuntutan pokok, yaitu kekuasaan raja mutlak terhadap atas seluruh rakyat. Sultan sebagai tokoh yang menguasai rakyat dan dapat menghubungkan dengan alam gaib. Manusia yang dijadikan wakil akan mendapat tanda-tanda khusus dari Tuhan dalam bentuk perlambang. Seorang raja harus memiliki legitimasi dari Tuhan. Bentuk legitimasi di Jawa disebut dengan pulung atau wahyu (cahaya nurbuat). Karena raja menduduki posisi sentral maka seluruh aparat pemerintahan merupakan perpanjangan kekuasaan raja.

2.4 Contoh Lain Budaya Indonesia Yang Menganut Nilai-nilai Islam
Tepung tawar, biasa dilakukan dengan menghambur-hambur beras kepada orang yang ditepung tawari. Adapun upah-upah, juga merupakan upacara menolak kesialan. Biasanya dilakukan terhadap orang yang sakit agar spiritualnya (roh) kembali ke jasadnya. Yaitu dengan memasak ayam kemudian diletakkan di piring lalu dibawa mengitari orang yang akan diupah-upahi, kemudian disuapkan kepada orang tersebut. Tujuannya ialah mengembalikan semangat pada orang sakit itu.
Sungkeman. Kebiasaan ini berasal dari pulau Jawa yang umumnya dilakukan pada saat Hari Raya dan pada upacara pernikahan, tetapi kadang kala dilakukan juga setiap kali bertemu. Dilakukan dengan cara sujud kepada orang tua atau orang yang dianggap sepuh (Jawa, tua atau dituakan). Adat ini mengandung unsur sujud dan rukuk kepada selain Allah, yang tentunya dilarang dalam Islam.
Tabot atau Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M). Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syaikh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syaih Burhanuddin (Imam Senggolo) menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahun.  Pada awalnya, inti upacara Tabot ialah untuk mengenang upaya pemimpin Syi'ah dan kaumnya mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamkannya di Padang Karbala. Istilah Tabot berasal dari kata Arab, “tabut”, yang secara harfiah berarti kotak kayu atau peti.  Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga kuat tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syi'ah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syi‘ah.
Tingkepan, babaran, pitonan dan pacangan. Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain:
1.  Tingkepan, yaitu upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama.
2.  Babaran, yaitu upacara menjelang lahirnya bayi.
3.  Sepasaran, yaitu upacara setelah bayi berusia lima hari.
4.  Pitonan, yaitu upacara setelah bayi berusia tujuh bulan.
5.  Sunatan yaitu acara khinatan.
Masyarakat di Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan acara kirim donga (kirim doa) pada hari ke-1, ke-3 (telung dino), ke-7 (pitung dino), ke-40 (patang puluh dino), ke-100 (satus dino), 1 tahun (pendak pisan), 2 tahun (pendak pindo) dan 3 tahun atau 1000 hari setelah kematian (nyewu).
Budaya Tumpeng. Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. Itulah sebabnya disebut “nasi tumpeng”. Olahan nasi yang dipakai, umumnya berupa nasi kuning, meskipun kerap juga digunakan nasi putih biasa atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa, dan biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia mengenal kegiatan ini secara umum. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang.
Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai “tumpengan”. Di Yogyakarta misalnya, berkembang tradisi “tumpengan” pada malam sebelum tanggal 17 Agustus, Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, untuk mendoakan keselamatan negara. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar